Pada akhirnya saya kembali nge-blog, hahahaha (maafkan saya pembaca, karena postingan ini diawali kalimat yang tidak jelas XD)
Ehm oke, jadi saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman yang lumayan berkesan untuk saya yang miskin pengalaman ini. Yaah, walaupun memang pengalaman ini tidak terjadi pada diri saya sendiri, namun menurut saya lumayan "aww" karena hampir saja melayangkan nyawa orang terdekat saya.
Seperti pada judulnya, pengalaman ini menceritakan tentang selamat dari kematian.
Pertama, kejadian ini dialami oleh ayahku. Februari lalu, ayahku pergi mukhoyyam (berkemah) ke sebuah gunung (maaf saya lupa nama gunungnya) di daerah Banten. Acara mukhoyyam kali ini salah satunya akan diisi dengan program survival. Pasti ada outbond juga dong (ya iyalah!). Nah, pas outbond ini ayah saya melakukan Rappelling (kegiatan menuruni tempat yang tinggi menggunakan tali, misalnya di tebing atau pohon) dari pohon dengan ketinggian kira-kira 10 m. Dan kisah pun dimulai *halah*.
Tali pengikat pinggang ayah saya sepertinya salah pasang (atau kenapa saya juga kurang paham) jadi saat menuruni pohon tersebut, tiba-tiba tali di pinggangnya terlepas. Ayah saya menuruni pohon tersebut murni dengan menggunakan tali pegangan yang diikat di pohon. Untung saja ia memakai sarung tangan, itupun tangannya tetap terluka. Sesampainya di bawah, ayah saya pingsan, dan langsung dibawa ke kemah utama. Setelah diperiksa, ayah saya mengalami luka-luka yang (alhamdulillah) cukup ringan pada tangan, kaki, kepala, dan bagian belakang tubuhnya. Orang-orang sekitar sempat panik. Namun alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, ayahku tidak mengalami luka serius.
Kejadian lain dialami oleh dua orang temanku.
Hari itu adalah hari serah terima jabatan salah satu organisasi dakwah pelajar tempatku bernaung. Selain mengundang para pengurus, acara itu pun mengundang beberapa perwakilan dari rohis SMA-SMA di daerahku. Tentu saja pada acara itu kami menyediakan konsumsi bagi para peserta yang hadir. Konsumsi tersebut berupa bla...bla...bla... dan air minum kemasan. Semuanya telah terbungkus rapi dalam kardus dan diikat dengan tali rafia sebagai pengaman. Konsumsi tersebut dibawa oleh 3 orang ikhwan temanku, menggunakan 2 motor. Selama perjalanan tersebut, aku kerap kali menghubungi salah seorang dari mereka untuk menanyakan kondisi konsumsi yang mereka bawa (yaa, karena saya seksi konsumsi) dan menanyakan tempat tujuan kami, karena ini perjalanan pertama saya kesana.
Perjalanan makanan tersebut terlihat mulus, bahkan sampai di tempat tujuan pun tidak terlihat tanda-tanda adanya kecelakaan. Jadi saya dan akhwat lainnya merasa biasa saja. Baru pada malam harinya, saya mengetahui apa yang terjadi. 2 motor pembawa konsumsi tersebut terpisan di jalan, jadi motor pertama sampai duluan di tempat acara. Aku pikir ini adalah hal yang biasa, mungkin karena adanya hambatan lalu lintas dan semacamnya. Namun ternyata, hal lainlah yang terjadi. Motor kedua yang dikendarai dua orang temanku itu mengalami kecelakaan, mereka menyerempet metro. Setelah terserempet, konsumsi terlempar ke tempat yang aman, sehingga bukti-bukti kecelakaan pun tak nampak jelas. Sang pengedara tertiban oleh motornya dan menyisakan sebuah luka yang cukup serius di kakinya. Yang dibonceng, terpental dan jatuh ke bawah metro, hampir terlindas (aaww), tapi alhamdulillah, mereka selamat. Saya lumayan tercengang mendengar cerita ini, dari dua orang sumbernya langsung.
Yaah,, begitulah kira-kira yang dapat saya sampaikan. Intinya, Allah memang sudah menggariskan kematian kita. Ia sudah merencanakan setiap detail kejadian yang akan merenggut nyawa kita. Tak peduli sedekat apapun kita dengan kematian, kematian tak akan menghampiri kita jika memang belum waktunya.  | Judul yg mnegangkan, welcome to mp... |
 | moga tetap semangat nulis... (i semangat lihat kanan-kiri, hu... T_T) |
|
"  "
|